Translate

Senin, 05 November 2018

CABAI KETAN BALAS


CABAI KETAN BALAS
CABAI OLAHAN KEMASAN INSTANKAN CABAI MERAH LOKAL SEGAR

Oleh:
Febi Anugraini
Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura

Cabai sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat Indonesia karena selalu hadir dalam setiap masakan. Cabai merupakan salah satu komoditi pertanian yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia yang tergolong sebagai tanaman sayuran family terung-terungan ataupun bumbu sebagai bahan pelengkap makanan. Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya di daerah Peru dan menyebar hingga masuk ke Indonesia. Cabai merah (Capsicum annum L.) adalah salah satu jenis cabai dari beragam jenis cabai yang ada. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis cabai saja dari puluhan jenis cabai yaitu cabai merah, cabai keriting, cabai rawit, dan paprika. Cabai merah lokal Indonesia memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan sejak zaman penjajahan menjadi kesukaan masyarakat Indonesia dalam hal makanan.
Cabai merah mengandung banyak manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh manusia. Di dalam cabai mengandung anti oksidan yang berfungsi menjaga tubuh dari serangan radikal bebas, lasparaginase, dan minyak atsiri capsaicin yang berfungsi untuk mengendalikan zat kanker (Benediktus, 2013). Zat capsaicin tersebut tersimpan dalam urat putih cabai yang menjadi tempat melekatnya biji cabai yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas apabila digunakan untuk rempah-rempah atau bumbu dapur. Zat Capsaicin ini bersifat stomakik yang dapat meningkatkan nafsu makan. Cabai merah juga mengandung senyawa-senyawa capsaicinoids yang berkaitan dengan reseptor nyeri di mulut dan kerongkongan yang menyebabkan rasa pedas. Kemudian reseptor ini mengirimkan sinyal ke otak bahwa sesuatu yang pedas telah dimakan. Otak merespon sinyal tersebut dengan menaikkan denyut jantung, meningkatkan pengeluaran keringat, dan melepaskan hormon endorfin (S. Alex). Vitamin C dan beta karoten (pro vitamin A) yang ada di dalam cabai merah pun cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kandungan mineralnya bahkan mengungguli ikan yang terdiri dari kalsium, fosfor, besi, magnesium, potassium, seng, dan lain-lain. Banyaknya keunggulan dari cabai menjadi tidak heran jika cabai merah dimasukkan masyarakat Indonesia dalam daftar kebutuhan pokok yang selalu hadir di setiap masakan harian.
Masyarakat Indonesia mengonsumsi cabai merah lokal dalam bentuk segar dan olahannya seperti saus, cabai merah kering, dan tepung cabai yang mana semua olahan tersebut sudah mulai diproduksi oleh industri sehingga bisa diproduksi dalam jumlah banyak. Cabai bahkan bisa diolah menjadi ice cream cabai yang belum cukup dikenal oleh masyarakat. Saat ini, alternatif olahan cabai merah lokal yang inovatif sangat dibutuhkan untuk lebih meningkatkan daya konsumsi masyarakat terhadap cabai merah lokal, apalagi beberapa tahun ini harga cabai merah lokal di Indonesia terus berfluktuasi. Perubahan harga cabai ini tidak terjadi pada cabai merah lokal saja, melainkan beberapa jenis cabai lain juga seperti cabai keriting dan cabai rawit. Hal ini sangat meresahkan masyarakat Indonesia karena sangat berpengaruh pada pengeluaran kesehariannya, apalagi untuk masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani cabai dan para pengusaha kuliner makanan pedas. Meskipun cabai merah lokal mahal harganya, cabai merah lokal tetap disukai oleh masyarakat Indonesia karena rasa pedasnya dibandingkan dengan cabai merah impor yang ada (Widodo, 2017).
Banyak petani cabai merah lokal yang mengalami kerugian ketika harga cabai merah lokal turun atau anjlok karena harga jual yang tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan. Di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, ada seorang petani bernama Widodo yang sampai mensedekahkan cabai-cabai yang ada di lahannya karena jika nanti dijual akan tetap mengalami kerugian (Bastioro, 2017). Pada dasarnya, jika harga barang turun akan membuat banyak konsumen yang membeli barang tersebut dan itu akan menguntungkan. Akan tetapi, tidak untuk para petani cabai yang justru merugi jika dijual karena harga jual cabai merah sendiri lebih kecil dari biaya produksinya. Berbeda dengan saat harga cabai mengalami kenaikan. Hal ini justru dua kali lebih menggencarkan dibanding dengan turunnya harga cabai. Bahkan pemerintah juga kebingungan mengatasi akan hal tersebut karena dampak kenaikan harga cabai ternyata berimbas pada inflasi negara. Kenaikan harga cabai ini tidak lain disebabkan oleh minimnya jumlah pasokan cabai yang diproduksi petani cabai.
Cuaca buruk baik yang musim penghujan ataupun musim kering yang ekstrim menjadi penyebab para petani cabai mengalami kegagalan panen. Jumlah pasokan cabai yang dihasilkan menjadi sedikit, sehingga mengakibakan tingginya harga cabai. Selain itu, panjangnya rantai distribusi cabai juga menjadi penyebab tingginya harga cabai. Menteri Pertanian, Amran sulaiman, mengatakan bahwa kenaikan harga cabai yang terjadi disebabkan oleh faktor cuaca dan distribusi (Lestari, 2017). Berikut adalah rantai distribusi cabai menurut Tim Liputan CNN Indonesia (2018).
Petani → Pengepul → Tengkulak besar → Pasar induk → Tengkulak kecil → Pedagang pasar → Pedagang warung → Konsumen Rumah Tangga.
Dari gambaran rantai distribusi tersebut, dapat diketahui betapa panjangnya proses pendistribusian cabai merah hingga ke tangan konsumen rumah tangga. Harga yang diberikan petani awalnya sebesar Rp. 65.000-70.000 per kg, dan sampai ke pedagang pasar harganya sudah mencapai Rp. 80.000-100.000 per kg, belum lagi sampai ke konsumen rumah tangga. Panjangnya rantai distribusi yang ada membuat semakin banyaknya biaya yang dibutuhkan, seperti biaya BBM, biaya operasional, dan biaya logistik yang memicu semakin tingginya harga jual cabai. Belum juga mengenai adanya pengemasan cabai yang berdatangan dari luar daerah yang tidak dikemas secara khusus. Biasanya cabai hanya dimasukkan ke karung goni atau plastik, kemudian hanya dilempar dan ditumpuk begitu saja ke transportasi yang mengangkut sehingga tidak heran jika banyak cabai yang rusak, patah-patah, bahkan membusuk ketika sampai ditempat tujuan. Akibatnya jumlah cabai merah lokal bagus yang akan dijual menjadi sedikit, harga jual cabai cacat tersebut akan menurun, bahkan tidak akan laku (Setiadi, 2008).
Sekarang ini ada beberapa olahan cabai merah lokal baru yang dapat meningkatkan daya konsumsi masyarakat terhadap olahan cabai merah lokal diantaranya adalah abon cabai, cabai kering serbuk kasar, dan bubur cabai merah original. Produk olahan tersebut juga bisa dijadikan alternatif pengganti cabai merah lokal segar pada waktu tertentu yang mendesak. Berikut adalah penjelasannya.
1.    Abon Cabai
Abon cabai ini berbeda dengan abon pada umumnya yang menggunakan suwiran daging. Abon cabai ini dibuat original agar rasa pedasnya benar-benar terasa. Membuat abon cabai ini bisa dilakukan sendiri di rumah karena memang pembuatannya yang tidak begitu sulit dan tidak membutuhkan peralatan atau mesin-mesin seperti di industrian. Pembuatan abon cabai yang pertama harus dilakukan adalah mencuci bersih cabai merah lokal dari tangkainya, mengeringkan cabai merah lokal hingga mudah diremukkan, bisa menggunakan oven. Setelah cabai merah kering, kemudian menghancurkan cabai merah kering tersebut atau bisa dengan diblender. Siapkan bumbu-bumbu rempah yang sudah dihaluskan, seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, gula merah, dan garam, lalu ditumis menggunakan sedikit minyak. Tambahkan cabai merah kering yang sudah dihaluskan tadi, kemudian diaduk sampai merata dan terlihat sangat kering, lalu didinginkan. Abon cabai sudah siap dikemas dan bisa dinikmati dengan sajian makanan yang diinginkan. Apabila menginginkan abon cabai bisa bertahan lama, maka bisa ditambahkan dengan natrium benzoat.
2.    Cabai Merah Kering Serbuk
Cabai merah kering berbentuk serbuk kasar dengan yang utuh sebenarnya sama, hanya saja bentuknya yang menjadi serbuk. Bentuk cabai kering serbuk ini lebih menginstankan pengonsumsian. Cabai kering serbuk ini diolah dengan mesin penggiling serbuk atau menggunakan mesin blender dan bisa juga ditumbuk secara manual tetapi akan memakan waktu yang lama. Jadi, setelah cabai merah segar dikeringkan, cabai dijadikan serbuk melalui mesin tadi atau ditumbuk, kemudian ditambah sedikit garam, dan disangrai serta dikemas jika sudah dingin. Cabai merah kering serbuk sama halnya dengan cabai kering utuh, karena sifatnya yang lebih tahan lama bisa menekan kerugian petani dan pedagang-pedagang yang takut cabai merah yang tidak laku dijual akan membusuk. Selain meminimalisir cabai merah lokal yang cepat membusuk dalam beberapa hari jika dibiarkan di ruang terbuka, cabai merah kering juga terbukti lebih memiliki rasa pedas yang semakin menyengat (Setiawati: 2016). Penggunaan cabai merah kering serbuk ini jauh lebih mudah, karena cukup menaburkan ke dalam masakan saja tanpa direndam terlebih dahulu ke dalam air hangat seperti penggunaan cabai merah kering yang utuh. Cabai merah kering serbuk ini bisa menjadi lebih awet jika diolah dengan pengawet seperti natrium benzoat yang sesuai dengan takarannya.
3.    Bubur Cabai Merah Lokal
Cabai merah lokal segar yang ini diolah menjadi bubur cabai merah original. Jadi cabai merah diolah dengan cara dihaluskan menggunakan mesin giling. Bubur cabai merah yang dibuat ini tidak terdapat tambahan bumbu rempah lainnya, cukup ditambah dengan garam. Hal ini agar rasa cabainya benar-benar rasa cabai merah asli. Cabai merah halus ini juga menginstankan para konsumen mengolah cabai merah untuk dijadikan masakan. Pengonsumsiannya tinggal menambahkan bumbu rempah lainnya sesuai masakan. Bahkan cabai rawit bisa dibentuk halus sekalian agar tinggal dituang dimasakan sesuai dengan makanan yang akan dibuat.
Pembuatan bubur cabai merah ini cukup mudah, singkatnya yaitu dengan memilih cabai merah lokal segar yang bagus, pisahkan dari tangkainya, kemudian dicuci dengan bersih, lalu digiling. Kemudian dicampur dengan natrium benzoat agar tahan lama dan garam secukupnya, lalu dipanaskan sebagai proses pasteurisasi, aduk sampai kental merata dan terakhir bubur cabai merah bisa dikemas dengan kemasan yang menarik. Bisa berupa kemasan botol, sachet, kotak, dan sebagainya yang bisa menambah nilai jual juga serta menarik selera konsumen terhadap hasil produksi yang inovatif.

Beberapa olahan cabai merah lokal tadi akan memberi peluang kepada para petani dan pengusaha atau industri makanan untuk bermitra, memproduksi cabai merah lokal segar tersebut dalam jumlah lebih banyak dan dilakukan pengolahan, diberi kemasan yang menarik, serta dipasarkan ke seluruh Indonesia. Kelebihan dari petani yang bermitra dengan industri terutama industri pengolahan adalah petani mendapatkan jaminan pasar, mendapat harga jual cabai yang wajar dan stabil sesuai dengan kontrak yang telah disepakati bagaimana pun kondisinya (Hamid, 2012). Jadi, meskipun harga cabai merah lokal sedang naik, masyarakat tetap berselera mengonsumsi cabai merah lokal dengan harga yang tetap dengan olahan cabai merah tersebut. Jika industri memproduksi olahan cabai merah dalam jumlah banyak dan bervarian, maka akan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak sesuai kebutuhan sehingga dapat menciptakan peluang kerja bagi masyarakat sekitarnya.
Hal ini bisa dilakukan secara maksimal pada akhir musim panen raya dan panen pada awal musim hujan yang dapat menjadi stok ketika jumlah pasokan cabai merah lokal sedikit sehingga masyararakat masih bisa menikmati pedasnya cabai merah lokal pada saat itu.. Dengan hal ini akan menekan tingginya pengaruh kenaikan harga cabai merah yang membuat inflasi berkurang. Bahkan dari hasil produksi olahan cabai merah tersebut jika sampai mampu mengekspor akan ikut menambah pendapatan negara Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Bastioro, Slamet. 2017. http://www.youtube.com/netmediatama.
Benediktus, Theodora Engko. 2013. Ketahanan Kultivar Cabai Rawit (Capsicum
frutescent L.)terhadap jamur Colletotrichum capsici (Syd.) Bulter&Bisby Penyebab Penyakit Antraknosa
di
http://digilib.unila.ac.id.
Hamid, Abdul dan Munir Haryanto. 2012. Untung Besar dari Bertanam Cabai Hibrida.
Jakarta: AgroMedia Pustaka.
S, Alex. Usaha Tani Cabai. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Setiadi. 2008. Bertanam Cabai. Jakarta: Penebar Swadaya.
Setiawati, Odilla Winneke. 2016.Cara Tepat Memakai Cabai Merah Kering di https://m.detik.com/food/cooking&tips/d-3256336 (akses 12 Juni 2018).
Tim Liputan CNN Indonesia. 2017. Rantai Distribusi Panjang, Cabai Mahal di www.
cnnindonesia.com
.


Hama Kutu Kebul terhadap Tanaman Terung


MAKALAH DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENDALIAN HAMA KUTU KEBUL PADA TANAMAN TERONG


Description: C:\Users\Zayyinah\Documents\IMG_20150928_053853.jpg
 











Disusun oleh :
KELOMPOK 5
1.      Ririn Putri Ayu Dewi              170321100026
2.      Moh. Faes                               170321100036
3.      Zainatul Laili                           170321100059
4.      Febi Anugraini                        170321100067
5.      Sarah Safira                             170321100076


PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERITAS TRUNOJOYO MADURA
BANGKALAN
2018

DAFTAR ISI





BAB I PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Suatu tanaman akan tumbuh dengan baik jika tidak ada yang mengganggunya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada kehidupan lain di sekitar yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Ada dari faktor manusia, hewan, tumbuhan lain, dan faktor lingkungan. Salah satu faktor yang memperhambat pertumbuhan tanaman adalah adanya hama yang meyerang suatu tanaman. Hama merupakan binatang yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, merusak tanaman, bahkan mematikan tanaman yang diserang, dan dapat menurunkan nilai ekonomis tanaman bagi para petani.

Menurut Hariyanto, et al (2016), sangatlah penting mengenali hama dan penyakit tanaman sebagai dasar pengetahuan untuk melindungi tanaman yang disebabkan oleh patogen. Salah satu hama yang akan dibahas adalah hama kutu kebul yang menyerang tanaman terong.  Suatu hama dalam menyerang suatu tanaman akan bermacam-macam dampaknya. Serangan hama akan menimbulkan suatu gejala pada tanaman inangnya dan jika gejala tersebut dapat dideteksi, maka akan bisa dilakukan pengendalian terhadap hama yang menyerang tanaman tersebut. Pengendalian hama biasa dilakukan terhadap hama yang dominan atau hama utama tanaman. Namun, jika pengendalian hama dan penyakit hanya mengandalkan satu komponen saja, terutama menggunakan pestisida itu akan berpotensi merusak lingkungan. Jadi, dengan beberapa pertimbangan, siatem pengendalian OPT harus tetap mengarah dan berpegang pada prinsip bahwa pengendalian pada suatu wilayah adalah efektif dan efisien serta blingkunganlingkungan (Erlinda et al, 2015).

Konsepsi pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan konsepsi pengendalian yang dikombinasikan dari berbagai cara dan dikembangkan secara luas yaitu sebagai suatu sistem pengelolaan  populasi hama yang menggunakan semua teknik yang sesuai dan kompatibel (saling mendukung) untuk menurunkan populasi sampai di bawah ambang kerugian ekonomi (Khalid dan Yusuf, 2009). PHT adalah cara pendekatan tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada dasar pertimbanag ekologi dan efisiensi ekonomi dalam  rangka pengelolaan agroekosistem  yang berwawasan lingkungan berkelanjutan (Untung, 2007).

Jadi, pengetahuan  seorang petani atau seseorang yang memiliki tanaman peliharaan harus benar-benar memahami. Oleh karena itu, akan dibahas contoh bagaimana memahami jenis hama, gejala yang ditimbulkan, serta  cara pengendalian yang tepat yaitu pada tanaman terong yang terserang hama kutu kebul.

 

1.2.        Rumusan Masalah

a.      Bagaimana klasifikasi hama kutu kebul yang menyerang tanaman terong?
b.      Bagaimana gejala yang ditimbulkan dari serangan kutu kebul?
c.       Bagaimana upaya pengendalian hama kutu kebul terhadap tanaman terong?

1.3.        Tujuan

a.        Mengetahui klasifikasi hama kutu kebul yang menyerang tanaman terong.
b.        Mengetahui bagaimana gejala yang ditimbulkan dari serangan kutu kebul.
c.        Mengetahui bagaimana upaya pengendalian terhadap hama kutu kebul yang menyerang tanaman terong.



BAB II PEMBAHASAN


2.1. Klasifikasi

Klasifikasi dan Morfologi Kutu Kebul
Kingdom        : Metanozoa
Phylum           : Arthropoda
Sub-phylum   : Unimaria
Class               : Insecta
Ordo               : Hemiptera
Sub-Ordo       : Sternorrhyncha
Superfamily   : Aleyrodoidea
Family            : Aleyrodidae
Genus             : Bemisia
Species            : Bemisia tabaci

2.2. Dampak Serangan
Serangan kutu kebul mengakibatkan dampak secara langsung maupun tidak langsung, yaitu :
1.      Dampak Langsung : Gejalanya daun tanaman menjadi keriting, klorosis (menguning), belang (mosaik) pada daun akan menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak produktif.
2.      Dampak Tidak Langsung : Kutu kebul menjadi penyebar virus penyakit kuning (Gemini virus). Virus Gemini atau penyakit kuning iniditularkan atau penyakit kuning ini ditularkan secara persisten (tetap) artinya sekali kutu kebul makan tanaman yang mengandung virus kuning, maka selama hidupnya dapat menularkan virus kuning.

2.3. Gejala Serangan

Gejala serangan kutu kebul
1.      Daun melengkung ke atas, melintir hingga keriput
2.      Daun seringkali menjadi layu, menguning,dan akhirnya rontok
3.      Akan muncul bintik-bintik pada daun
4.      Tanaman akan menjadi kerdil akibat dari pertumbuhan yang terhambat
5.      Percabangan dan tunas pada tanaman yang terserang tidak akan dapat berkembang
6.      Tanaman yang terserang akan mengalami panen dengan hasil rendah hingga gagal panen akibat tanaman gagal berbunga yang mengakibatkan produktivitas menurun


2.4. Pengendalian

Cara Pengendalian :
1.      Aplikasi system air curah (Sprinkler Irrigation)
System air curah ini terbukti sangat efektif dalam mengendalikan kutu kebul meski tanpa penggunaan insectisida. Percikan air dari springkler membuat kutu kebul tercuci dan dapat merusak telur-telur yang ada pada permukaan daun. Teknik ini sangat direkomendasikan karena selain menekan biaya untuk pestisisa juga ramah lingkungan tentunya.
2.      Aplikasi perangkap kuning (Yellow Trap)
Aplikasi atau penggunaan perangkap kuning atau yellow trap dilakukan dengan memasang papan kayu yang di cat kuning dan telah diolesi dengan oli. Serangga kutu-kutuan seperti kutu kebul secara alami tertarik pda warna kuning. Jika anda ingin lebih hemat, anda bisa menggunakan kertas yang berwarna kuning lalu diolesi oli.

3.      Aplikasi tanaman penghalang (Barrier)
Teknik ini bertujuan untuk menghalangi serangga vector dan penyakit lain agar tidak dapat masuk ke tanaman budidaya utama. Tanaman barrier yang biasa digunakan adalah jagung. Dikarenakan jagung mempunyai bulu-bulu yang dapat membuat kutu kebul dating bertelur disana dan tidak masuk ketanaman utama.




BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan

Salah satu faktor yang memperhambat pertumbuhan tanaman adalah adanya hama yang meyerang suatu tanaman. Hama merupakan binatang yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, merusak tanaman, bahkan mematikan tanaman yang diserang, dan dapat menurunkan nilai ekonomis tanaman bagi para petani. Kutu kebul termasuk dalam kingdom Metanozoa dengan class Insecta dan ordo Hemyptera. Dampak serangan kutu kebul terhadap tanaman terong terbagi menjadi dua, yaitu dampak secara langsung dan dampak secara tidak langsung. Kemudian terdapat beberapa gejala serangan serta cara pengendalian hama kutu kebul pada tanaman terong.




DAFTAR PUSTAKA


Damayanti, Erlinda, et all. 2015. Perkembangan Populasi Larva Penggerek Batang dan Musuh Alaminya Pada Tanaman Padi (Oryza sativa L.). Jurnal HPT Vol 3 No 2. ISSN 2338-4336.
Khalid, J. dan Jusuf A. 2009. Modul Pelatihan 4 Pengendalian Hama Terpadu. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nanggroe Aceh Darussalam. Badan Penelitian dan Pengembangan.
Triwibowo, Hariyanto, et all. 2014. Identifikasi Hama dan Penyakit Shorea Leprosula Miq Di Taman Nasional Kutai Resort Sangima Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal AGRIVOR Vol XIII No 2. ISSN 1412-6885.
Untung, K. 2007. Kebijakan Perlindungan Tanaman. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Hlm. 35-52.